Rabu, 10 September 2014

Takdir Kita


Tuhan menciptakan dirimu dan dirinya dihidupku untuk ku cintai.
Mungkin ini teramat sulit untukmu. Tapi satu hal yang kamu harus tahu, dirinya dan dirimu hanya dalam satu cinta di hatiku.
Agh,,, cinta tak dapat ditebak kapan datang dan perginya. Tetapi kamu tak dapat mengelak kenyataan ini sayang, karena aku juga tak menginginkan semua ini. Tetapi inilah takdirmu, takdirku, takdir kita.
Pagi itu, sepulang dari toko buku, aku dan Atha, adik iparku menyebrang menggunakan jembatan selayang. Kami berjalan dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba teman lamaku menelfonku. Dibarengi isak tangis ku terima sebuah kabar yang membuat langkah kakiku terhenti. Jantungku pun ikut terhenti sejenak.
          “tak mungkinnnn,,,,,,,” desisku pelan
Brukkkkkk,,,,,,,,,,,,
Suara itu membuatku terkaget. Ku lihat Atha tergantung di jembatan itu, sebab papan penyanggahnya roboh.
Tanpa pikir panjang aku berlari, tetapi,,, aku malah terperosok pada robohan yang baru.
Duarrrr,,,,,,,,,
Aku terjatuh, tepat pada sebuah truk berisi pupuk. Atha menjerit memanggilku
          “kak Vaytaaaaaaaaa,,,,,,,,,,,,,,,,,,”
Aku langsung di bawa ke RS dan tak sadarkan diri lebih 3 hari.
Saat itu Anthony dan Fizu langsung ke RS dan menelfon ortuku. Dan mamaku juga mama Anthony langsung berangkat ke Medan. Beliau mendapat kabar, bahwa putrinya, Atha kecelakaan.
Sewaktu mama memasuki kamar tempat aku dirawat, mama menemui Anthony sedang duduk disisiku dengan mata sembab dan berkata: yank cepat sembuh.
Tetapi setelah mama datang, Anthony langsung mempersilahkan mama duduk.
          “ada apa dengannya?” setelah mama terdiam sejenak melihat keadaanku.
          “dia jatuh dari jembatan selayang nantulang” jawab Anthony
          “siapa yang menelfon tadi? Apakah kamu?” tanya mama
          “ea nantulang,,, sebenarnya dia tadi bersama adikku waktu kejadian itu, tetapi adikku hanya tergantung disana!” tutur Anthony
Malamnya Atha dan mamanya datang ke RS. Mama menyalam dan langsung memeluk mamanya.
          “sabar eda ya,,,”
          “ea da,, entah bagaimana lagi ini semua” kata mama sambil menangis.
Saat mama dan mamanya bercerita, Anthony hanya duduk termenung menatapiku. Sedang Fizu dan Atha menatapi Anthony yang tak tahu harus bagaimana membangunkanku.
Tiab-tiba aku mengigo memanggil nama Agus. Semua tersentak kaget, tetapi yang lebih kaget adalah Anthony. Dia menatap mama dan Fizu bergantian.
Mama langsung menghampiri Anthony dan mengusap punggungnya. Mama menarik nafas amat dalam mengumpulkan kekuatan untuk menjelaskan semuanya.
Tetapi Anthony mengerti situasi itu. Dan sebelum mama cerita soal Agus, Anthony langsung berkata: nantulang sekarang itu tidak penting, yang penting sekarang bagaimana Vayta bisa cepat sadar dan sembuh.
Mama amat terkejut dengan perkataan Anthony, mama tak menyangka Anthony punya pemikiran begitu.
Sesudah mengigo, aku kembali terlelap dan semua terdiam lesu.
Sejam setelah kejadian itu papa nelfon. Beliau menanyakan keadaanku dan memberitahukan soal kepergian Agus.
Hari Kedua
Temanku dan teman Anthony pada berdatangan. Mereka simpati dengan keadaanku. Terbukti karena mereka berusaha keras menuntut pemerintah daerah. Dan mereka meminta pemerintah daerah turun tangan dalam keadaanku yang masih kritis. Koran-koran banyak membahas soal diriku.
Mama semakin hari semakin khawatir. Beliau takut aku tak akan bangun dari mimpi panjang itu, padahal keadaanku tidak begitu parah.
Malamnya pukul 00.29 wib, aku kembali mengigo memanggil Agus. Waktu Anthony belum tidur. Sedang mama yang masih terjaga langsung bangun tetapi tidak menghampiriku. Dari jauh mama melihat Anthony sedang menggenggam tanganku dan berkata: yank,, bangun yank,,, kasihan mama, papa. Dia berkata sambil meneteskan air mata kemudian berdoa. Usai berdoa, dia masih menatapiku tak berdaya.
Melihat itu mama baru mengerti, mengapa aku begitu menyayanginya. Tetapi mama tak habis pikir mengapa harus Agus yang ku panggil dalam setiap igoanku, mengapa bukan Anthony.
Hari Ketiga,
Papa dan papa Agus datang menjengukku. Saat itu yang menjagaiku tinggal mama dan mama Anthony, sedang Anthony kuliah. Saat itu juga aku kembali mengigo, memanggil Agus lagi. Papa Agus langsung menghampiriku dan berkata: sabar nak, dia udah tenang di alamnya,,, bangunlah,,, lihat masa depanmu yang begitu indah.
Meski sudah tiga kali mengigo, tetapi aku masih belum bangun dari mimpi panjang itu. Aku masih terlelap dan terus terlelap.
Sorenya sekitar pukul 15.32 wib,  aku mengigo memanggil nama yang berbeda. Aku memanggil ICAN (Icanth).  Mereka heran. Mama terdiam sejenak dan langsung menelfon Fizu.
          “Zu,,, siapa yang bernama Icanth?”
          “ngak tau nantulang, tapi bentar aku tanya Anthony” kata Fizu sambil mematikan telfonnya.
          “Thon tau ngak siapa Icanth? Vayta mengigo menyebut nama itu!”
Mendengar itu Anthony, langsung cabut. Sambil berlari, Anthony berteriak pada teman-temannya: TA aku yah,,, dia sedang memanggilku.
Melihat tingkah Anthony, temannya pun berkata: semoga Vayta sudah terbangun.
Sesampai di RS, dia langsung menerobos banyak orang untuk menghampiriku.
          “aku disini beb,,,,” ucapnya dengan suara serak bercampur bahagia. Tetapi yang ditemuinya masih bermain dengan alam mimpinya.
Malamnya, pukul 23.09 wib, aku kembali mengigo memanggil Icanth dengan mengeluarkan air mata. Anthony yang ku beri nama Icanth langsung menghampiriku.
Melihatnya, mama dan mamanya mengusap pundaknya memberi dia semangat.
Paginya, pukul 01.29 wib, aku mengigo lagi memangil dia.
Anthony yang tak bisa menutup matanya langsung menjawab panggilannku. Meski jawaban itu tak berespon.
          “aku disini hasian, bangunlah aku tak ingin kehilanganmu!” ucapnya sambil menagis. “Vayta,,, jangan siksa aku dengan begini. Tuhan bangunkan dia untuk kucintai. Aku sayang dia. Bangulah sayang,,,,,,” lanjutnya.
Tetapi aku masih terlelap dan terlelap. Terjebak dalam mimpi panjang yang tak ku tahu sampai kapan akan usai.
Paginya, pukul 04.16 wib, aku pun terbangun dari mimpi panjang yang melelahkan itu.  Ku dapati Anthony sedang mengengam tanganku. Dan saat ku tarik tanganku, dia pun terbangun.
          “Vayta,,,,,,!!!!” ucapnya tak percaya.
Aku hanya tersenyum, dia semakin bingung tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Untuk menyakinkan apa yang dilihatnya, dia membangunkan mama dan mamanya.
          “ma,,, mama apakah aku sedang bermimpi?” tanyanya pada mamanya.
          “ada apa nak?” Tanya mamanya heran.
          “nantulang,, aku tidak bermimpi kan…!!!!”
          “tidak nak,,” jawab mama
          “Vayta ma, nantulang!”
Mama langsung menghampiriku, dan yang lain pada bangun.
Mereka menangis terharu melihat aku sudah terbagun. Dan beberapa menit kemudian dokter datang memeriksa keadaanku.
Anthony langsung menelfon Fizu kawan-kawanya, setelah dokter menyarankan aku untuk istirahat.
Esok paginya Fizu dan Atha datang ke RS. Dan dokter menyarankan kalau besoknya aku sudah bisa pulang berhubung lukaku tidak ada yang serius.
Sorenya, setelah para pengunjung dan wartawan pada pulang, papa Agus pun menceritakan semuanya.
Agus meninggal, karena livernya kambuh. Dia menitipkan kotak dan sebuah surat untukku dan Anthony. Dan papa Agus menyerahkannya padaku.
Ku buka dan ku baca isi surat itu dengan linangan air mata.
Vayta ,,, ku tahu ini sangat berat bagimu. Maafkan aku Vay,,,, jujur aku tak pernah membencimu ataupun marah padamu selama ini. Aku sayang padamu Vay,,, sejak pertama kali aku mengenalmu.
Aku amat bahagia ketika keluargaku mengetahui aku sayang padamu. Apalagi sewaktu kamu bilang kamu sayang padaku.
Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan aku juga menyayangimu, tetapi aku tak berani menetang jarak diantara kita. Kau jauh dan aku tak ingin jauh darimu.
Vay,,, aku amat senang ketika kamu datang ke Poltabes, meski waktu itu aku kalah tes, tetapi kebahagiaanku adalah dirimu. Semangatku adalah dirimu.
Vay,,, aku juga amat bahagia ketika keluargamu tidak melarangku sayang padamu. Dan aku masih ingat perkataan nantulang waktu itu, aku harus jadi anak yang berhasil.
Vay,,, makasih juga buat kebaikan, ketulusan, bahkan pengorbananmu untukku. Dan aku juga berterimakasih atas kehadiranmu saat ultahku yang ke-17. Aku tahu kamu adalah yang abadi di hatiku.
Vay,,, maafkan aku atas kesalahanku telah pergi dengan yang lain. Aku benar-benar cemburu melihatmu dengan yang lain. Dan maafkan juga dengan semua perkataan mama yang telah membuatmu tersinggung.
Dan ampuni aku untuk semua air matamu yang keluar  karenaku.
Vay,,, Anthony adalah orang yang benar-benar sayang kamu, aku salut padanya. Aku tahu dia tak akan mengecewakanmu seperti aku,,
Bahagialah dengannya Vay, aku tak bisa bersama kalian, melihatmu tersenyum bahagia selamanya
Vay,,, aku tahu, kamu lagi sakit, cepat berobat hasian ni si Anthony, disini ada cek, gunakan untuk biaya berobatmu.
Anthony,,, aku tahu kamu sayang dia dik,,, jagalah dia, jangan pernah membuatnya kecewa okey,,,
Aku tahu dari perjumpaan kita, dua minggu lalu. Mungkin kamu tak menyangka kalau kita mencintai wanita yang sama. Dan kamu juga ngak menyangka kan, mengapa kamu seterbuka itu kepadaku. Mungkin itulah rencana Tuhan itu dik. Dan aku benar-benar cemburu padamu dik. Aku juga amat menyesal, pernah membuatnya bersedih,,,
Dik,,, jaga dia baik-baik yahhh,,,,
Oh yeahhh,,,, nanti tolong kalian tanamkan pohon cemara di samping makamku.
Semoga kalian bahagia. Tuhan beserta kalian.
Agus Frans
Air mataku mengalir membaca isi suratnya itu, begitu juga dengan Anthony. Ku usap air matanya dan dia pun langsung memelukku amat erat.
Dua hari kemudai kami pulang ke kampungku, sekalian ziarah ke makamnya. Tetapi sebelumnya Anthony minta izin pada mamanya dan merestuinya.
Esoknya, kami ziarah ke makamnya.
Disana kami temukan segunduk tanah yang masih basah. Dan disana juga ku temukan sebuah batu nisan bertuliskan AGUS FRANS. Tubuhku lemah tak berdaya menemukan kenyataan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Rasanya mimpi itu teramat berat ku terima. Ternyata kami sudah berbeda, jauh,,, amat jauh berbeda.
Usai berdoa, kami pun menanamkan pohon cemara di dekat makamnya. Saat menanamkannya ku bisikkan kata-kata penguat hati melepas kepergiannya.
          “Gus,,, tenanglah disana, aku sudah bahagia dengannya” ucapku lesu.
          “bang,,, aku akan menjaga Vayta untuk cinta kita padanya,,, tenanglah abang disana,,,”
Ku peluk Anthony di depan makamnya, ku terisak menahan sesak hatiku.
Cinta, cinta, cinta,,,,,
Sebenarnya ada berapa orang cinta sejati itu???
Aghhh,,,, kau dan dia hanya ada dalam satu cinta dalam hati ini,,, ini takdir,,, tak mungkin kita elak.
Selamat tinggal Agus, kita telah berbeda, terimakasih untuk semua pelangi  yang pernah kau lukis di hatiku.
Cerita tentangmu akan selalu pengiring cinta nyata itu, cinta aku dan Anthony, orang yang telah kau pilih tuk menitipkan cintamu untukku.
THE END
By: VILYE VAYTA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar