Rabu, 10 September 2014

Nou-ma-men Mama


“dunia ini hanya selebar daun kelor”
Kata itu kilas balik selalu menggema dalam kepala. Berulang kali ku coba menepisnya, tetapi tetap saja tak  bisa ku tepis.
Dendam sekali pun tak akan bisa memungkiri arti pepatah itu. Sungguh teramat dalam untuk di selami. Dan tak akan pernah ada yang bisa menghindarinya dari kenyataan. Layaknya kenyataan yang ku hadapi.
Aku terlahir bukan seorang pendendam. Tetapi kenyataan yang membentang di depanku, menanamkan dendam di nadiku. Mengalirinya ke otakku serta memoriku. Dendam pun menjadi penguasa dalam jiwaku.Dan dendam juga yang menuntutku tuk duduk merenungi pepatah itu. Sungguh amat menyiksa jiwaku.
********
Senin, 01 Agustus
Aku berjalan sendiri, seperti biasa papa sibuk jadi ngak bisa jemput. Dan aku hanya menikmati perjalananku, tanpa tau arah dan tujuan kaki melangkah.
“heyy,,,,,” ucap seseorang sambil menarik tanganku.
Aku baru tersadar, ternyata aku hampir menabrak tiang listrik di persimpangan jalan.
“makasih ya” ucapku sambil menatap wajah yang di hadapku. Tetapi dia hanya tersenyum membalas perkataanku.
Selasa, 02 Agustus
Menjadi siswi baru, bukanlah pilihan yang menyenangkan, dimana aku harus dituntut untuk cepat bersosialisasi. Tetapi keadaan keluarga menuntutku untuk semua itu.
Dalam dua tahun, aku bisa tiga kali pindah sekolah. Dan selama ini, aku selalu menolak untuk pindah, tetapi untuk saat ini aku sangat menginginkannya. Entah mengapa betapa berhasratnya aku untuk meninggalkan tempatku dulu.
Pagi ini, aku diantar papa ke sekolah, kebetulan searah dengan tempat kerjanya.
“bagaimana sekolah sayang??” tanya papa penuh perhatian.
“biasa saja pa, tapi kali ini aku sangat menyukai kepindahan kita” ucapku tenang.
Papa menantapku sejenak dibarengi tanda tanya yang tak terucap. Aku bisa membacanya lewat garis yang membingkai wajahnya. Ada rasa khwatir tergurat di wajahnya..
“tenang pa,,, Egryn akan baik-baik saja kok” ucapku memahami papa, papa hanya tersenyum lega.
***************
Pelajaran pertama Biologi, semua teman seruanganku pada sibuk melihat katak yang mereka bawa, sedang saya sibuk mengutak atik handphoneku.
“hey,, murid baru... loe mau katak??” tanya seorang cewek tomboy yang duduk di belakangku.
Aku tidak mengacuhkannya, tetapi dia terus bertanya dan terakhir dia menjumpaiku dan meletakkan katak itu di atas kepalaku.
Spontan katak tersebut ku lemparkan tepat di wajahnya. Akhirnya cekcok pun terjadi. Dia marah dan ingin menamparku, tetapi tangannya ku tahan dan mencampakknya ke bawah. Aku pun keluar, di belakangku, ku dengar teman seruanganku mengejekku, mereka berkata, “woi dia nangis”.Aku tidak peduli dengan ocehan itu, aku terus melangkah menuju kantin.
Di kantin aku duduk di sudut ruangan, mengambil posisi menghadap lapangan basket. Menikmati pemandangan, sekelompok  siswa yang sedang olahraga.
Anganku mulai melambung tinggi, tinggi menggapai batas kekonyolan yang tak terpungkiri. Hingga seorang guru menghampiriku.
“hey kamu kenapa tidak ikut olahraga??” tanyanya
Aku bingung mau jawab apa, terakhir ku jawab dengan alasan sedang tidak enak badan bu. Ibu tersebut pun berlalu.Aku pun kembali menikmati elusan angin yang membelai ditemani segelas jus avokad.
Hari-hari pun berlalu begitu saja, semua terasa biasa saja. Meski ku menginginkan tempat ini, tetapi terasa lebih mudah ku mendapat teman di sekolahku yang lama.

Senin, 08 Agustus
Kembali ke hari senin, tak terasa sudah seminggu aku disini, menikmati suasana yang biasa saja. Tetapi mamaku tidak pernah bertanya bagaimana perasaanku di tempat ini. Beliau selalu sibuk mondar-mandir entah kemana-mana. Sibuk dengan dunianya dan hobby nya yang tak jelas untuk apa. Tidak ada perubahan. Aku muak.
Seperti biasa senin papa harus rapat, jadi jam 5 pagi sudah berangkat kerja. Apalagi kalau papa yang mimpin rapat, bisa lebih awal lagi. Dan sialnya pagi ini papa mimpin rapat, terpaksa aku minta antar sama mama.
“bi,, papa udah berangkat? Tanyaku sama bi Inem.
“papamu kan rapat nang,,,” jawabnya.
“hufh,,,” desisku sambil cemberut.
“minta antar mama saja nang” ucapnya ragu melihat wajah cemberutku.
“yah mau gimana lagi bi, mudah-mudahan bisa, lagian ini udah jam setengah tujuh bi,” ucapku sambil melirik jam tanganku dan langsung menuju kamar mama.
“ma,,, ma,,, ma,,,” panggilku tetapi tak ada sahutan.
sampai tiga kali tetapi tidak ada sahutan.
terakhir bi Inem bela-belain antar aku naik motor papa.
Hari ini pelajarannya agama. Teman sebangkuku, Ryryn sudah mulai dekat denganku. Pelajaran hari ini berlalu dengan baik, karena beberapa orang teman seruanganku sudah mulai dekat denganku.
Sepulang sekolah, aku pulang sendirian, menelusuri setiap jalan, menikmati alur kehidupan yang tak bisa ku tebak. Hingga lelah pun menuntunku tuk berhenti, duduk manis di bawah rindangnya pohon mangga. Menikmati aktivitas manusia.
Di seberang jalan, tampak opera kehidupan yang sebenarnya. Seorang wanita paruh baya selalu tersenyum pada setiap orang yang di jumpainya. Dan dia juga selalu memeluk setiap anak-anak yang di jumpainya. Tampaknya dia begitu akrab dengan suasana dan penghuni jalan besar ini.
Tetapi yang lebih membuatku heran, dia terkadang memberikan uang pada sebagian anak. Tanya pun melingkupi kepalaku, dari penampilanya dia bukan orang kaya. Pakaian sederhananya, tak menunjukkan dia seorang istri pejabat.
Tanya pun kembali menjerat isi kepalaku, entah mengapa wanita itu cukup menarik perhatianku. Apa mungkin karena sikapnya yang ramah?
Tak kusadari, wanita itu telah duduk di sisiku. Dia tersenyum.
Aku pun membalas senyumnya. Kami pun mulai berbincang hangat, ternyata beliau punya anak satu sekolah denganku. Hingga beliau menunjukkan jalan pulang ke rumah.
Dari kejauhan, tampak wajah risau bi Inem yang sesekali muncul di balik jendela. Ku cepatkan langkah kakiku, sepertinya bi Inem sedang kena marah.
“aduh,,, darimana aja nang,,, kok hape nya ngak aktif.... “ ucap bi inem saat menghampiriku di teras rumah.
ku tatap wajah sendu dan tulus itu. Tampak kegelisahan yang mendalam menjerat batinnya.
“kena marah lagi bi??” tanyaku tanpa mengacuhkan pertanyaannya.
“ngak kok nang, bibi khawatir aja nang” ucapnya ragu.
“mama mana??” tanyaku lagi.
bi Inem terdiam tak menjawabku. Ku terobos masuk ke dalam rumah. Pas seperti dugaanku.
“diaammmm....................” jeritku meleking membelah isi rumah.
mama dan papa terdiam sejenak dan menatapku.
Kemudian mama segera menghampiriku dan bersiap untuk menyambarku.
“dasar anak liar,,,, “ ucapnya dan mencoba menarik rambutku.
Kali ini aku mengelak dan langsung berlari ke pelukan papa. Dia pun berusaha meraihku dari papa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku. Papa menampar mama di hadapanku. Semuanya berhenti, seperti pandanganku yang terhenti. Dan tak ingat apapun lagi.
Sudah hampir sebulan sejak kejadian itu, aku dan mama tidak pernah berbicara langsung. Kalau ada papa, aku betah di rumah. Kalau ada libur, aku selalu ikut dengan papa ke tempat kerja.
Jumat, 02 Agustus
Hari ini aku berkunjung ke rumah wanita yang penah ku jumpai. Aku baru menyadari semuanya. Ternyata dia ibu dari orang yang menegurku saat hendak menabrak tiang listrik di 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar