Jumat, 27 Oktober 2017

Waktu

Aku berlari mengejar sang waktu. Tapi, aku tak pernah sanggup tuk meraihnya.
Bahkan berjalan mundur pun utk menyesali yg sudah berlalu pun aku tak bisa.

Sabang ke Merauke

Aku terjebak dalam dunia yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dunia yang penuh jalan. Benar kata pepatah, seribu jalan menuju Roma. Tetapi hanya ada satu jalan yang tak menanamkan penyesalan dan kesesatan.
Aku terlahir dari keluarga petani. Orang tuaku hanya seorang petani dengan sejuta mimpi untuk anaknya. Dan lengkapkah mimpi mereka akan diriku. Aku diciptakan menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa, dulu. Sekarang jauh dari sebutan itu.
Awalnya aku menolak, bukan tipeku sekali berhadapan dengan anak-anak. Yang kuinginkan adalah belajar sastra, belajar syair, menulis. Mau jadi apa kamu? Kalau kamu jadi guru, masa tuamu akan jelas. Begitulah kata orang tuaku. Bahkan ibuku menyarankan aku mencari anak mantu Pegawai Negeri. Pada akhirnya aku pun mengalah, mengenang aku masih dibiayai. Bahkan mereka mengancam tak usah kuliah kalau bukan jadi guru. Rasanya memalukan tidak kuliah, padahal orangtua mendukung. Dan kujalanilah fakultas pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia dengan dua alasan. Pertama belajar bahasa itu gampang, menurutku. Kedua, pendidikan sastra mendalami dunia sastraku. Ternyata alasan pertama tak segampang yang kubayangkan. Meleset jauh. Namun, aku lulus tepat waktu dengan hasil yang tergolong memuaskan.
Mencari pekerjaan dengan lulusan pendidikan Bahasa Indonesia bukanlah hal yang gampang. Tidak bisa kerja kantoran dengan gaji yang lumayan, seperti mimpiku. Honor. Mencari sekolah yang membutuhkan susah. Ditambah gajinya tak cukup biaya makan 2 minggu. Kapan bantu ortu sekolahin adikku. Boro-boro bantu malah minta dikirimin lagi tuh, katanya kerja. Buka les. Jarang orang mau les mata pelajaran yang satu ini. Buat apa, kan kita orang Indonesia. Irtu kebanyakan orang bilang. Hubungannya apa coba? Nyatanya nilai UN yang paling ancur dari tahun ke tahun, ya Bahasa Indonesia. Coba ikut tes CPNS, tak pernah dibuka lagi semenjak lulus. Terlalu banyak honor yang belum diangkat. Jadi, nasib kami yang setiap tahun diluluskan ribuan bagaimana? Terakhir kerja sebagai marketing. Bukan ahli, jadi tidak pernah dapat pelanggan. Nasibkah.
Hampir setahun kerja tak menentu, akhirnya aku memutuskan terbang ke ujung timur Indonesia. Merauke. Berharap di timur matahari terbit, terbit juga rejeki dan kehidupan baruku. Orang bilang peluangnya besar. Ternyata, honor biasa disini sama dengan yang di Sabang, ditambah biaya hidup tinggi. Ibarat kata, menggantung nasib pada telur di ujung tanduk. Namun, nasib tak selalu buruk, ada kalanya baik. Aku pun lulus tes guru honor PemDa, dengan gaji yang lumayan. Lumayan bisa ngirim ke kampung meski sedikt. Dan bisalah beli bedaklah. Masa dibeliin terus.
Sabang sampai Merauke. Kesempatan ini membuka mataku akan negeri tercinta ini, Indonesia. Di sini aku bertemu dengan manusia berbagai bentuk, jenis, karakter, dan adat-istiadat. Jika di Sabang, aku hanya bertemu orang yang hanya sejenis saja. Tetapi di sini tidak. Dari penjuru Indonesia banyak mengadu nasib di sini.
Letak geografisnya, aku tak bisa menuliskan secara akurat. Aku kan bukan anak geografi. Tetapi tempatnya, jauh dari yang apa aku bayangkan. Dan kamu pasti tidak bisa membayangkannya. Pelosok.
Hujan deras, listrik dan air padam. Listrik padam karena pohon tumbang ke tiang listrik. Air padam, karena daun-daun masuk ke saluran pipa. Kadang ke sekolah cuma gosok gigi dan cuci muka. Jalan rusak, kadang naik perahu ke kecamatan. Tidak ada jaringan sama sekali. Kalau ada, itu berarti kapal putih alias kapal besar membawa penumpang lewat, itu pun kadang. Dan kalau mau dapat jaringan, harus catat hari masuk keluar kapal dan bersiap duduk di tepi pantai. Lengkap sudah.
Kami tinggal bertiga di satu rumah guru. Rumah yang terletak di antara dua sekolah. Kami, adalah orang asing di tempat itu. Kami datang dari berbagai tempat, bahkan aku tidak kenal teman serumahku sebelumnya. Batak, Toraja, Kupang. Lengkaplah, barat, tengah, dan timur. Orang yang berbeda di tempatkan dalam lingkungan yang berbeda pula. Yang sama hanya bahasa ibu pertiwi saja, Bahasa Indonesia. Dan di situlah kadang saya bangga jadi anak bahasa.
Aku dan temanku Bunga (Toraja), mengajar di SMP, dan Sari (Kupang), mengajar di SD. Awalnya setengah mati. Mengajar di sini tak segampang saat menghadapi anak-anak ketika Praktek Lapangan. Yang kutemukan, anak-anak yang terlambat masuk sekolah. Umurnya mengharuskannya mengenakan putih abu-abu, tapi nyatanya dia masih mengenakan putih-biru. Namun ada beberapa anak yang tak bisa mengenal huruf dengan baik. Yang lainnya masih banyak mengeja, padahal bukan Sekolah Dasar lagi.
Jika di zaman ini yang lain sudah mengenal K – 13. Tapi kami lain, yang kami tahu catat buku sampai habis, sebab kalau dikte hurufnya pada hilang. Atau ceramah dari pagi sampai siang. Buku catatan saja hanya ada satu untuk semua. Macam RCTI saja, satu untuk semua. Bagi mereka semua pelajaran itu membosankan, kecuali olah raga. Main bola.
Lebih mirisnya, Ibukota Indonesia itu mereka tidak tahu. Kadang mereka mengatakan Indonesia ibukotanya Monas. Jika kau tunjukkan peta, wilayah Indonesia itu cuma satu pulau. Ya pulau tempat mereka berdiri, yang lain ya tidak tau bu guru. Hari-hari penting yang mereka tahu, cuma 17 Agustus. Kalau ada libur itu karena tanggal merah saja. Jika absen jumlah siswa 45, tapi yang hadir setiap hari cuma 20 orang. Kalau ingin bertemu ke-45 siswa itu, hanya  pas ujian penerimaan raport. Tapi, harap maklum. Kebanyakan dari mereka naik kelas, karena pergantian tahun. Tidak ada guru yang mengajar. Mereka yang ditugaskan, tidak tahu di mana rimbanya. Meskipun begitu, tidak semua lokasi seperti itu. Di tempat lain, kadang hanya satu atau dua guru tinggal di sekolah. Bahkan hanya ada satu kepala sekolah yang tinggal mengajar dari kelas I sampai kelas VI. Namun, di tempatku lain. Ada banyak guru honor, jadi semua mata pelajaran lengkap. Hanya saja honor PemDa tetap di tempat ketimbang honor sekolah. Kami mau makan apa kalau tidak buat laporan.
Selain mengajar, kedua temanku bertugas sebagai pengurus dapodik. Alasannya, mereka bisa mengoperasikan komputer. Katanya. Padahal sebenarnya bukan begitu. Kerja, kerja, tapi laporan tidak sesusi dengan apa yang mereka kerjakan. Laporan yang sebenarnya, orang yang dibayar atasan. Atau atasan kerja sendiri. Mereka hanya makan capeknya doang.
Suatu hari, aku dan bendahara sekolah pergi ke Dinas. Ada hal yang harus kami cek. Karena banyak info yang tak pernah kami ketahui. Ibarat kata orang tua, dorang su sampe bulan, kitong masih tinggal di kampung. Boro-boro info, nonton saja tak pernah. Kami tak punya TV. Boro-boro TV, colok setrika dan laptop aja daya listrik ngak sanggup. Nasib lagi.
Jadi, hari itu perdana aku lihat laporan dana keuangan sekolah setelah sekian lama kerja. Hal yang tak seharusnya kulihat akhirnya kulihat juga. Banyak kode alam di dalam laporan. Banyak tanda tangan tiruan alias palsu. Termasuk tanda tangan atas nama saya, menerima sejumlah uang yang tak tahu jelasnya nyangkut di mana. Wajahku memucat.
Cepat-cepat kututup laporan tersebut sebelum beliau datang. Tapi, hatiku sudah tak tenang. Kucari-cari apa kesalahanku. Mengapa aku dilibatkan dengan hal itu. Memang sebelumnya, aku dan temanku Bunga pernah membaca laporan sekolah. Laporan yang tak jelas perinciannya, hanya saja tak kutemukan namaku. Tapi kali ini.
Awalnya aku ngak peduli dengan laporan segala macam. Dan tidak mau terlibat. Bagiku, beliau menanda tangani laporanku itu sudah cukup. Tapi, karena dia sendiri yang menyeretku. Akhirnya aku pun ikut campur. Perlahan kuselidiki pemasukan ke sekolah. Ada banyak yang tak pernah kuketahui. Padahal semua itu harusnya, semua guru tahu kemana perinciannya, kan ada RKS dan RKT.
Lain masalah dengan atasan. Di sekolah, orang tua datang marah-marah ke sekolah mengatakan akan melaporan aku. Kasus fotocopy buku pelajaran. Apa salahku coba? Toh itu kebutuhan utama anak mereka. Lagian selumnya sudah ada pertemuan soal itu. Dan itu membantu siswa untuk belajar, mengingat kami yang sangat kekurangan buku. Pegangan guru saja, beli sendiri soalnya sekolah tak menyediakannya. Bahkan untuk fotocopy itu, saya pakai biaya sendiri untuk transfortasi. Di tambah lagi, beberapa anak semakin hari semakin berulah. Anak-anak bandal tidak boleh di pukul, ada HAM. Ditegur, malah jawabnya, ko siapa? Bukan sa pu bapak!. Lengkaplah sudah.
Rasanya mau gila memikirkan semua itu. Pengen nangis cerita ke mama, jaringan tak ada. Mau ke kota uang semakin menipis. Tak kusangka. niat baik harus begini. Benar kata orang, tak selamanya baik untukmu, baik untuk orang lain. Hidup ini akan selalu ada pro dan kontranya.
Hampir seminggu, pikiranku kacau balau. Tidur tak tenang memikirkan segalanya. Menunggu pagi rasanya menunggu mimpi buruk jadi kenyataan. Temanku menasehati tidak boleh ambil pusing, jangan terlalu memikirkannya. Tapi, pada akhirnya aku tumbang juga. Masuklah tamu tak di undang. Malari tersiana dan tipes.
Tiga hari sakit, rawat di rumah saja. Uang tak cukup pergi ke kota untuk berobat. Hanya pergi ke bidan desa minta obat. Tapi karena tidak sanggup, akhirnya kami pergi ke kota menuju rumah sakit. Di jalan, pas baru masuk area signal, pesan mamaku masuk. “boa kabar boru?? (bagaimana kabar putriku??) – Batak versi. Batin anak ke Ibu tak pernah lenyap meski singnal lenyap.
Akhirnya sepanjang jalan Mamaku menemani perjalananku, meski sebatas suara. Tetapi aku tak berani mengatakan kalau keuanganku menipis. Aku tak ingin membebani mereka. Adikku mau sidang meja hijau butuh biaya besar. Untung masih ada satu yang bisa kuandalkan di sudut dunia lain. Seseorang yang sayangnya juga tak padam meski kabar timbul tenggelam. Pria terbaik setelah Papaku. Mengirimiku biaya berobat di rumah sakit, meski potong sinamot (mahar perempuan Batak) katanya.
Tak ada signal, mimpi pun jadi. Begitulah kami, sebelum matahari terbenam kami persiapkan telepati. Agar mimpi kami sampai tujuan. Sama hal dengan Papa dan Mama, David pria terbaikku. Mereka sudah bermimpi tidak baik tentang aku. Itu pertanda bahwa kau benar-benar dalam keadaan tidak baik.
Selama di rumah sakit, akhirnya kuceritakan semuanya yang terjadi kepada David. Aku tak siap membebani ortuku, tetapi aku siap membebaninya.
“hidup itu tak selamanya mulus loh... masalah yang kau hadapi selama ini hanyalah kerikil kecil. Dan masalah ini, akan membentukmu menjadi lebih tahu diri, dan lebih baik menentukan perjalanan hidupmu ke depannya.. jangan menyerah, kami ada mendukungmu...” ucapnya panjang lebar.
“aku pengen pulang saja Vid...” ucapku pelan dengan sesak yang menggantung di tenggorokanku.
“ingat tulang dan nantulang yang sudah mendukungmu sejauh ini, kau kesana, kemari mereka dukung. Itu hanya masalah kecil masa kamu menyerah? Bagaimana dengan masalah masa depan kita, yang nantulang tidak suka anak mantunya tidak Pegawai Negeri ini?” ucapnya lembut sambil bercanda.
Akhirnya kupikirkan kembali lagi apa yang diucapkannya. Ternyata benar, masalah yang kuhadapi hanyalah secuil banding orang lain. Dan bukan hanya aku yang jadi korban pemalsuan itu, Bunga yang jadi pengurus dapodik SD itu juga salah satu korban. Atasannya juga menggunakan namanya untuk dana yang tak pernah diketahuinya. Satu tanda tangan, sejuta tanda tanya.
Orang tua yang hendak melaporkan aku, akhirnya mengerti dengan penjelasanku yang berulang kali. Meski dia mencoba menyelidiki apa yang terjadi di dalam sekolah itu. Tapi, aku tak tahu apapun, hanya jawaban itu yang bisa aku lontarkan. Memang aku tak tahu, dan aku tak mau tahu. Biarlah pekerjaanku mengubah nasib anak-anak itu. Mengajari mereka segala hal yang kuketahui selain bahasa. Aku tak ingin membiarkan mereka tetap buta akan dunia ini. Ku ingin mereka jadi orang-orang yang jujur dalam menjalani hidup mereka. Sebab, ada banyak atasan-atasan lain di penjuru negeri ini yang menindas orang-orang kecil hanya demi uang. Akan kuciptakan mereka menjadi pemberantas tikus-tikus berkepala hitam itu.
Wajahku yang dulu masam dengan atasanku, kini biasa seperti dulu. Aku tak mau ambil pusing dengan apa pun yang telah diperbuatnya. Dosa ditanggung sendiri, ada waktunya roda di bawah. Tetapi suatu saat, akan kuberanikan diri menegor kesalahannya. Bukannya orang yang lebih tua dari kita bisa tegur. Setiap orang salah harus kita tegur. Agar negara ini lebih baik lagi.
- Sekian -

Rabu, 10 September 2014

Takdir Kita


Tuhan menciptakan dirimu dan dirinya dihidupku untuk ku cintai.
Mungkin ini teramat sulit untukmu. Tapi satu hal yang kamu harus tahu, dirinya dan dirimu hanya dalam satu cinta di hatiku.
Agh,,, cinta tak dapat ditebak kapan datang dan perginya. Tetapi kamu tak dapat mengelak kenyataan ini sayang, karena aku juga tak menginginkan semua ini. Tetapi inilah takdirmu, takdirku, takdir kita.
Pagi itu, sepulang dari toko buku, aku dan Atha, adik iparku menyebrang menggunakan jembatan selayang. Kami berjalan dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba teman lamaku menelfonku. Dibarengi isak tangis ku terima sebuah kabar yang membuat langkah kakiku terhenti. Jantungku pun ikut terhenti sejenak.
          “tak mungkinnnn,,,,,,,” desisku pelan
Brukkkkkk,,,,,,,,,,,,
Suara itu membuatku terkaget. Ku lihat Atha tergantung di jembatan itu, sebab papan penyanggahnya roboh.
Tanpa pikir panjang aku berlari, tetapi,,, aku malah terperosok pada robohan yang baru.
Duarrrr,,,,,,,,,
Aku terjatuh, tepat pada sebuah truk berisi pupuk. Atha menjerit memanggilku
          “kak Vaytaaaaaaaaa,,,,,,,,,,,,,,,,,,”
Aku langsung di bawa ke RS dan tak sadarkan diri lebih 3 hari.
Saat itu Anthony dan Fizu langsung ke RS dan menelfon ortuku. Dan mamaku juga mama Anthony langsung berangkat ke Medan. Beliau mendapat kabar, bahwa putrinya, Atha kecelakaan.
Sewaktu mama memasuki kamar tempat aku dirawat, mama menemui Anthony sedang duduk disisiku dengan mata sembab dan berkata: yank cepat sembuh.
Tetapi setelah mama datang, Anthony langsung mempersilahkan mama duduk.
          “ada apa dengannya?” setelah mama terdiam sejenak melihat keadaanku.
          “dia jatuh dari jembatan selayang nantulang” jawab Anthony
          “siapa yang menelfon tadi? Apakah kamu?” tanya mama
          “ea nantulang,,, sebenarnya dia tadi bersama adikku waktu kejadian itu, tetapi adikku hanya tergantung disana!” tutur Anthony
Malamnya Atha dan mamanya datang ke RS. Mama menyalam dan langsung memeluk mamanya.
          “sabar eda ya,,,”
          “ea da,, entah bagaimana lagi ini semua” kata mama sambil menangis.
Saat mama dan mamanya bercerita, Anthony hanya duduk termenung menatapiku. Sedang Fizu dan Atha menatapi Anthony yang tak tahu harus bagaimana membangunkanku.
Tiab-tiba aku mengigo memanggil nama Agus. Semua tersentak kaget, tetapi yang lebih kaget adalah Anthony. Dia menatap mama dan Fizu bergantian.
Mama langsung menghampiri Anthony dan mengusap punggungnya. Mama menarik nafas amat dalam mengumpulkan kekuatan untuk menjelaskan semuanya.
Tetapi Anthony mengerti situasi itu. Dan sebelum mama cerita soal Agus, Anthony langsung berkata: nantulang sekarang itu tidak penting, yang penting sekarang bagaimana Vayta bisa cepat sadar dan sembuh.
Mama amat terkejut dengan perkataan Anthony, mama tak menyangka Anthony punya pemikiran begitu.
Sesudah mengigo, aku kembali terlelap dan semua terdiam lesu.
Sejam setelah kejadian itu papa nelfon. Beliau menanyakan keadaanku dan memberitahukan soal kepergian Agus.
Hari Kedua
Temanku dan teman Anthony pada berdatangan. Mereka simpati dengan keadaanku. Terbukti karena mereka berusaha keras menuntut pemerintah daerah. Dan mereka meminta pemerintah daerah turun tangan dalam keadaanku yang masih kritis. Koran-koran banyak membahas soal diriku.
Mama semakin hari semakin khawatir. Beliau takut aku tak akan bangun dari mimpi panjang itu, padahal keadaanku tidak begitu parah.
Malamnya pukul 00.29 wib, aku kembali mengigo memanggil Agus. Waktu Anthony belum tidur. Sedang mama yang masih terjaga langsung bangun tetapi tidak menghampiriku. Dari jauh mama melihat Anthony sedang menggenggam tanganku dan berkata: yank,, bangun yank,,, kasihan mama, papa. Dia berkata sambil meneteskan air mata kemudian berdoa. Usai berdoa, dia masih menatapiku tak berdaya.
Melihat itu mama baru mengerti, mengapa aku begitu menyayanginya. Tetapi mama tak habis pikir mengapa harus Agus yang ku panggil dalam setiap igoanku, mengapa bukan Anthony.
Hari Ketiga,
Papa dan papa Agus datang menjengukku. Saat itu yang menjagaiku tinggal mama dan mama Anthony, sedang Anthony kuliah. Saat itu juga aku kembali mengigo, memanggil Agus lagi. Papa Agus langsung menghampiriku dan berkata: sabar nak, dia udah tenang di alamnya,,, bangunlah,,, lihat masa depanmu yang begitu indah.
Meski sudah tiga kali mengigo, tetapi aku masih belum bangun dari mimpi panjang itu. Aku masih terlelap dan terus terlelap.
Sorenya sekitar pukul 15.32 wib,  aku mengigo memanggil nama yang berbeda. Aku memanggil ICAN (Icanth).  Mereka heran. Mama terdiam sejenak dan langsung menelfon Fizu.
          “Zu,,, siapa yang bernama Icanth?”
          “ngak tau nantulang, tapi bentar aku tanya Anthony” kata Fizu sambil mematikan telfonnya.
          “Thon tau ngak siapa Icanth? Vayta mengigo menyebut nama itu!”
Mendengar itu Anthony, langsung cabut. Sambil berlari, Anthony berteriak pada teman-temannya: TA aku yah,,, dia sedang memanggilku.
Melihat tingkah Anthony, temannya pun berkata: semoga Vayta sudah terbangun.
Sesampai di RS, dia langsung menerobos banyak orang untuk menghampiriku.
          “aku disini beb,,,,” ucapnya dengan suara serak bercampur bahagia. Tetapi yang ditemuinya masih bermain dengan alam mimpinya.
Malamnya, pukul 23.09 wib, aku kembali mengigo memanggil Icanth dengan mengeluarkan air mata. Anthony yang ku beri nama Icanth langsung menghampiriku.
Melihatnya, mama dan mamanya mengusap pundaknya memberi dia semangat.
Paginya, pukul 01.29 wib, aku mengigo lagi memangil dia.
Anthony yang tak bisa menutup matanya langsung menjawab panggilannku. Meski jawaban itu tak berespon.
          “aku disini hasian, bangunlah aku tak ingin kehilanganmu!” ucapnya sambil menagis. “Vayta,,, jangan siksa aku dengan begini. Tuhan bangunkan dia untuk kucintai. Aku sayang dia. Bangulah sayang,,,,,,” lanjutnya.
Tetapi aku masih terlelap dan terlelap. Terjebak dalam mimpi panjang yang tak ku tahu sampai kapan akan usai.
Paginya, pukul 04.16 wib, aku pun terbangun dari mimpi panjang yang melelahkan itu.  Ku dapati Anthony sedang mengengam tanganku. Dan saat ku tarik tanganku, dia pun terbangun.
          “Vayta,,,,,,!!!!” ucapnya tak percaya.
Aku hanya tersenyum, dia semakin bingung tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Untuk menyakinkan apa yang dilihatnya, dia membangunkan mama dan mamanya.
          “ma,,, mama apakah aku sedang bermimpi?” tanyanya pada mamanya.
          “ada apa nak?” Tanya mamanya heran.
          “nantulang,, aku tidak bermimpi kan…!!!!”
          “tidak nak,,” jawab mama
          “Vayta ma, nantulang!”
Mama langsung menghampiriku, dan yang lain pada bangun.
Mereka menangis terharu melihat aku sudah terbagun. Dan beberapa menit kemudian dokter datang memeriksa keadaanku.
Anthony langsung menelfon Fizu kawan-kawanya, setelah dokter menyarankan aku untuk istirahat.
Esok paginya Fizu dan Atha datang ke RS. Dan dokter menyarankan kalau besoknya aku sudah bisa pulang berhubung lukaku tidak ada yang serius.
Sorenya, setelah para pengunjung dan wartawan pada pulang, papa Agus pun menceritakan semuanya.
Agus meninggal, karena livernya kambuh. Dia menitipkan kotak dan sebuah surat untukku dan Anthony. Dan papa Agus menyerahkannya padaku.
Ku buka dan ku baca isi surat itu dengan linangan air mata.
Vayta ,,, ku tahu ini sangat berat bagimu. Maafkan aku Vay,,,, jujur aku tak pernah membencimu ataupun marah padamu selama ini. Aku sayang padamu Vay,,, sejak pertama kali aku mengenalmu.
Aku amat bahagia ketika keluargaku mengetahui aku sayang padamu. Apalagi sewaktu kamu bilang kamu sayang padaku.
Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan aku juga menyayangimu, tetapi aku tak berani menetang jarak diantara kita. Kau jauh dan aku tak ingin jauh darimu.
Vay,,, aku amat senang ketika kamu datang ke Poltabes, meski waktu itu aku kalah tes, tetapi kebahagiaanku adalah dirimu. Semangatku adalah dirimu.
Vay,,, aku juga amat bahagia ketika keluargamu tidak melarangku sayang padamu. Dan aku masih ingat perkataan nantulang waktu itu, aku harus jadi anak yang berhasil.
Vay,,, makasih juga buat kebaikan, ketulusan, bahkan pengorbananmu untukku. Dan aku juga berterimakasih atas kehadiranmu saat ultahku yang ke-17. Aku tahu kamu adalah yang abadi di hatiku.
Vay,,, maafkan aku atas kesalahanku telah pergi dengan yang lain. Aku benar-benar cemburu melihatmu dengan yang lain. Dan maafkan juga dengan semua perkataan mama yang telah membuatmu tersinggung.
Dan ampuni aku untuk semua air matamu yang keluar  karenaku.
Vay,,, Anthony adalah orang yang benar-benar sayang kamu, aku salut padanya. Aku tahu dia tak akan mengecewakanmu seperti aku,,
Bahagialah dengannya Vay, aku tak bisa bersama kalian, melihatmu tersenyum bahagia selamanya
Vay,,, aku tahu, kamu lagi sakit, cepat berobat hasian ni si Anthony, disini ada cek, gunakan untuk biaya berobatmu.
Anthony,,, aku tahu kamu sayang dia dik,,, jagalah dia, jangan pernah membuatnya kecewa okey,,,
Aku tahu dari perjumpaan kita, dua minggu lalu. Mungkin kamu tak menyangka kalau kita mencintai wanita yang sama. Dan kamu juga ngak menyangka kan, mengapa kamu seterbuka itu kepadaku. Mungkin itulah rencana Tuhan itu dik. Dan aku benar-benar cemburu padamu dik. Aku juga amat menyesal, pernah membuatnya bersedih,,,
Dik,,, jaga dia baik-baik yahhh,,,,
Oh yeahhh,,,, nanti tolong kalian tanamkan pohon cemara di samping makamku.
Semoga kalian bahagia. Tuhan beserta kalian.
Agus Frans
Air mataku mengalir membaca isi suratnya itu, begitu juga dengan Anthony. Ku usap air matanya dan dia pun langsung memelukku amat erat.
Dua hari kemudai kami pulang ke kampungku, sekalian ziarah ke makamnya. Tetapi sebelumnya Anthony minta izin pada mamanya dan merestuinya.
Esoknya, kami ziarah ke makamnya.
Disana kami temukan segunduk tanah yang masih basah. Dan disana juga ku temukan sebuah batu nisan bertuliskan AGUS FRANS. Tubuhku lemah tak berdaya menemukan kenyataan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Rasanya mimpi itu teramat berat ku terima. Ternyata kami sudah berbeda, jauh,,, amat jauh berbeda.
Usai berdoa, kami pun menanamkan pohon cemara di dekat makamnya. Saat menanamkannya ku bisikkan kata-kata penguat hati melepas kepergiannya.
          “Gus,,, tenanglah disana, aku sudah bahagia dengannya” ucapku lesu.
          “bang,,, aku akan menjaga Vayta untuk cinta kita padanya,,, tenanglah abang disana,,,”
Ku peluk Anthony di depan makamnya, ku terisak menahan sesak hatiku.
Cinta, cinta, cinta,,,,,
Sebenarnya ada berapa orang cinta sejati itu???
Aghhh,,,, kau dan dia hanya ada dalam satu cinta dalam hati ini,,, ini takdir,,, tak mungkin kita elak.
Selamat tinggal Agus, kita telah berbeda, terimakasih untuk semua pelangi  yang pernah kau lukis di hatiku.
Cerita tentangmu akan selalu pengiring cinta nyata itu, cinta aku dan Anthony, orang yang telah kau pilih tuk menitipkan cintamu untukku.
THE END
By: VILYE VAYTA

Kau dan Aku


          “besok ultaku, tinggal 9 jam lagi… hufhhhh,,,,,” desah panjangku keluar lagi, yang akhir-akhir ini senantiasa menemani hariku. Semenjak putus dengannya, 16 Maret lalu. Aku lebih banyak mendesah, mengenang sebulan sebelum ulang tahunku kami berpisah.
Kemarin kami bertemu di lantai dasar. Dia tersenyum dengan senyuman khasnya, yang selalu membuatku merindu.
         
Senyum itu membuat darahku berdesir dan rasa bahagia mengalir dari ubun-ubunku. Tetapi rasa itu menghilang seketika, waktu dia memanggilku “ito”. Air mataku bergumpal dalam bendungan, ingin merembes tetapi kutahankan. Dengan ku kuatkan hatiku menyebut “ito” juga padanya. Padahal selama ini aku ingin mendengar bibir lembut itu menyebut “hasian”. Sama seperti dulu waktu bersama.
          Kini jam menunjukkan pukul 16.20 wib. Sekitar tujuh jam lagi 16 April menjemput. Aku semakin mengeluh, mengenang tak ada pertanda dia akan kembali. Sama seperti harapanku selama ini.
          Aku mulai lelah duduk termenung di sudut taman ini. Ku beranjak. Melangkah kemana pun langkah kakiku menuntun. Kepalaku kini di penuhi dengan beribu pertanyaan  yang tak mungkin kujawab. Hatiku pun sesak membuatku tak sadar kemana aku melangkah. Aku linglung.
          Sejenak aku tersadar. Aku sudah berada di tengah jalan raya, dan tiba-tiba.
Bruukkkkk……
Aku terpental.
Sebuah tangan terulur menopangku bangkit.
        “senyum itu” bisikku
Rasa yang kurasakan semalam kini kurasakan lagi. Dan sebuah kata mengalir dari bibir lembut itu “bangkitlah hasian”
        Tanpa pikir panjang, aku bangkit dan berdiri di sampingnya. Dia mengajakku melangkah bersama. Aku tak peduli dia mengajakku kemana pun yang dia mau. Aku hanya ingin pergi bersamanya. Dan aku tak peduli ini mimpi atau tidak. Rasa egoisku ingin bersamanya membuatku tak perduli itu semua.
        Di sisi lain. Aku sedang dalam perjalanan menuju RS.
Sementara aku bahagia dalam mimpi, pergi bersamanya. Dalam keadaan nyata nyawaku dalam keadaan terancam. Aku jatuh pada titik tidak sadarkan diri pada jangka waktu lama.
        Mama dan papa langsung berangkat ke Medan. Sedang Julianty dan Anette sedang gelisah menunggu kabar dari dokter.
        Tepat pukul 23.26 wib, ortuku sampai di RS Pringadi. Namun luka di kepalaku membuatku belum sadar dari mimpi panjang itu.
Semua orang panik, tetapi aku malah bahagia dalam mimpi indah itu. Bergandeng tangan, menghabiskan waktu bersamanya.
        Walau dalam mimpi aku bahagia, tetapi sebenarnya air mataku mengalir dari kedua sudut mataku. Meski kedua mataku tertutup erat. Dan walau dalam keadaan koma, dapat kurasakan kedua mataku di sentuh lembut. Sentuhan itu berasal dari tangan Chris, teman seruangan Harder.
        Pukul 23.58 wib kudengar suara Harder memanggilku. Suara itu amat keras memekak di telingaku. Dengan berat, kucoba membuka mataku, tetapi tak ku lihat Harder di sisiku. Yang ada hanya orang tuaku, temanku dan orang yang tak kuharapkan. Kenyataan itu menghantam kepalaku, pusing. Pusing yang kurasakan menekan kepalaku. Ternyata suara Harder yang memanggil itu, ada dalam mimpi indahku.
       
Pusing, kepalaku pusing. Air mataku mengalir. Ku sebut namanya, tetapi suaraku tenggelam dalam kenyataan pahit itu.
        Wajah panik tampak di wajah mereka. Air mata bahagia yang baru terlukis di wajah mereka kini berubah menjadi air mata ketakutan.
        Tepat pukul 00.00, 16 April, yang berarti hari ini ulang tahunku yang ke-20. Aku pun memilih untuk terlelap dan bermimpi lagi tentang dia. Aku lelah dengan kenyataan itu. Aku pun kini makin terlelap dan terlelap. Bermimpi indah tentang dia. Dan aku pun bahagia meski hanya dalam mimpi.
THE END
By: Vilyhe Vaytha
04 April 2012