“besok ultaku, tinggal 9 jam lagi… hufhhhh,,,,,” desah panjangku keluar lagi,
yang akhir-akhir ini senantiasa menemani hariku. Semenjak putus dengannya, 16 Maret lalu. Aku lebih banyak mendesah, mengenang sebulan sebelum ulang tahunku kami berpisah.
Kemarin kami bertemu di lantai dasar. Dia tersenyum dengan senyuman khasnya, yang selalu membuatku merindu.
Senyum itu membuat darahku berdesir dan rasa bahagia mengalir dari ubun-ubunku. Tetapi rasa itu menghilang seketika, waktu dia memanggilku “ito”. Air mataku bergumpal dalam bendungan, ingin merembes tetapi kutahankan. Dengan ku kuatkan hatiku menyebut “ito” juga padanya. Padahal selama ini aku ingin mendengar bibir lembut itu menyebut “hasian”. Sama seperti dulu waktu bersama.
Senyum itu membuat darahku berdesir dan rasa bahagia mengalir dari ubun-ubunku. Tetapi rasa itu menghilang seketika, waktu dia memanggilku “ito”. Air mataku bergumpal dalam bendungan, ingin merembes tetapi kutahankan. Dengan ku kuatkan hatiku menyebut “ito” juga padanya. Padahal selama ini aku ingin mendengar bibir lembut itu menyebut “hasian”. Sama seperti dulu waktu bersama.
Kini jam menunjukkan pukul
16.20 wib. Sekitar tujuh jam lagi 16 April menjemput. Aku semakin mengeluh, mengenang tak ada pertanda dia akan kembali.
Sama seperti harapanku selama ini.
Aku mulai lelah duduk termenung di sudut taman ini. Ku beranjak. Melangkah kemana pun langkah kakiku menuntun. Kepalaku kini di penuhi dengan beribu pertanyaan
yang tak mungkin kujawab. Hatiku pun sesak membuatku tak sadar kemana aku melangkah. Aku linglung.
Sejenak aku tersadar. Aku sudah berada di
tengah jalan raya, dan tiba-tiba.
Bruukkkkk……
Aku terpental.
Sebuah tangan terulur menopangku bangkit.
Sebuah tangan terulur menopangku bangkit.
“senyum itu” bisikku
Rasa yang kurasakan semalam kini kurasakan lagi. Dan sebuah kata mengalir dari bibir lembut itu “bangkitlah hasian”
Rasa yang kurasakan semalam kini kurasakan lagi. Dan sebuah kata mengalir dari bibir lembut itu “bangkitlah hasian”
Tanpa pikir panjang, aku bangkit dan berdiri di sampingnya. Dia mengajakku melangkah bersama. Aku tak peduli dia mengajakku kemana pun yang dia mau. Aku hanya ingin pergi bersamanya. Dan aku tak peduli ini mimpi atau tidak. Rasa egoisku ingin bersamanya membuatku tak perduli itu semua.
Di sisi lain. Aku sedang dalam perjalanan menuju RS.
Sementara aku bahagia dalam mimpi, pergi bersamanya. Dalam keadaan nyata nyawaku dalam keadaan terancam. Aku jatuh pada titik tidak sadarkan diri pada jangka waktu lama.
Sementara aku bahagia dalam mimpi, pergi bersamanya. Dalam keadaan nyata nyawaku dalam keadaan terancam. Aku jatuh pada titik tidak sadarkan diri pada jangka waktu lama.
Mama dan papa langsung berangkat ke Medan. Sedang Julianty dan Anette sedang gelisah menunggu kabar dari dokter.
Tepat pukul 23.26 wib, ortuku sampai di RS Pringadi. Namun luka di kepalaku membuatku belum sadar dari mimpi panjang itu.
Semua orang panik, tetapi aku malah bahagia dalam mimpi indah itu. Bergandeng tangan, menghabiskan waktu bersamanya.
Semua orang panik, tetapi aku malah bahagia dalam mimpi indah itu. Bergandeng tangan, menghabiskan waktu bersamanya.
Walau dalam mimpi aku bahagia, tetapi sebenarnya air mataku mengalir dari kedua sudut mataku. Meski kedua mataku tertutup erat. Dan walau dalam keadaan koma,
dapat kurasakan kedua mataku di sentuh lembut. Sentuhan itu berasal dari tangan Chris, teman seruangan
Harder.
Pukul 23.58 wib kudengar suara Harder memanggilku.
Suara itu amat keras memekak di telingaku. Dengan berat, kucoba membuka mataku, tetapi tak ku lihat Harder di sisiku. Yang ada hanya
orang tuaku, temanku dan orang yang tak kuharapkan. Kenyataan itu menghantam kepalaku, pusing. Pusing yang kurasakan menekan kepalaku. Ternyata suara Harder
yang memanggil itu, ada dalam mimpi indahku.
Pusing, kepalaku pusing. Air mataku mengalir. Ku sebut namanya, tetapi suaraku tenggelam dalam kenyataan pahit itu.
Pusing, kepalaku pusing. Air mataku mengalir. Ku sebut namanya, tetapi suaraku tenggelam dalam kenyataan pahit itu.
Wajah panik tampak di wajah mereka. Air mata bahagia yang baru terlukis di wajah mereka kini berubah menjadi air mata ketakutan.
Tepat pukul 00.00, 16 April, yang berarti hari ini ulang tahunku yang ke-20. Aku pun
memilih untuk terlelap dan bermimpi lagi tentang dia. Aku lelah dengan kenyataan itu. Aku pun
kini makin terlelap dan terlelap. Bermimpi indah tentang
dia. Dan aku pun bahagia meski hanya dalam mimpi.
THE END
By: Vilyhe Vaytha
04 April 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar