Siang itu matahari membakar peluhku, namun dengan tertatih aku melangkah.
Winda temanku, mengoceh walau aku terkadang aku tak peduli
“Amanda,,,,”ucapanya sambil memukul pundakku
“kau dengarkah apa yang aku bicarakan?”
tanyanya jengkel.
Aku terkaget dan berkata: iya Windaku sayangggg,,,,,
Lalu dia melanjutkan ocehannya, aku terdiam seolah mendengarkannya. Padahal sebenarnya benakku sedang memikirkan sesuatu, yang telah lama hilang.
Sudah sewajarnya terlupa,
hamper 2 tahun aku mencoba benar-benar melupakannya. .Kini kenang tentang dia terungkit lagi. Bagai buku usang yang di hembus angin, terbuka lembar per lembar. Sesudah
lama terlupakan ternyata indah juga kenangan itu. Walau luka lama terungkit lagi. Sakit terasa tapi tak ingin rasanya mengakhiri mengenang kenangan itu.
Semakin lama kuhanyut,
semakin ku dihantui bayangan tentangnya, hinggaku,,, merindukannya. Terakhir kubertanya dalam hati “dimana dia sekarang?”
Sepanjang perjalanan wajahnya membayang di benankku. Aku tak tau mengapa aku begini. Banyak pertanyaan dalam benakku tentang dirinya. Tanya yang tak bias kujawab sendiri.
Antara sadar atau tidak, kudengar Winda berteriak
“Manndaaaaa…….”
Ku menoleh kebelakang, dan seorang pengendara sepeda motor melaju menuju kearahku.
Brukkk….
Aku terpental agak jauh dari tempat aku berdiri, ketika aku menoleh kebelakang.
Winda berlari menghampiriku.
“Man,
Manda kamu ngak pa-pa
kan?” dia bertanya dengan khawatir.
Dia mendudukkanku. Sedang aku hanya membisu tak menghiraukan perkataannya. Terasa sesuatu mengalir
di kepalaku. .Kemudian yang menyenggolku tadi datang menghampiriku.
“dik,,,
adik ngak kenapa-kenapakan?”
Aku hanya diam,
kusentuh kepalaku dan ku temukan tanganku berlumur darah.
“kepalaku Winnnn….” Jeritku.
Winda dan sipengendara
pun panic dan langsung membawaku ke Rumah Sakit.
Aku terbangun, kudapati teman-teman sekontrakkanku sudah pada berdatangan.
“Manda,,,kamu sudah siuman,,,” ucap mereka senang.
Sorenya, mereka beranjak pulang satu per satu..Kini tinggal
Andin yang menemaniku di RumahSakit.
Malam pertama, aku dikunjungi oleh Berto, saudara iparku. Dia begitu peduli padaku, bahkan malam itu dia nginap di RS untuk menemaniku.
Besoknya, Andika dating begitu juga Leon. Aku jadi tak nyaman dengan keadaan tersebut. Mengapa tidak? Ketiga cowok
yang mengunjungiku saat itu sedang berusaha mencuri hatiku. Namun ku tak berniat menjadikan mereka pengganti seseorang yang saat ini mengusik pikiranku. EVEN.
Malam berikutnya, Alex datang bersama temannya. Ahh,,, situasinya membuatku semakin gelisah. Aku hanya terdiam menatap mereka satu per satu. Mereka juga terdiam. Hingga kemudian, dengan lembut Berto berucap: Manda kamu perlu istrahat yang banyak, kamu istrahat dulu yahhh.
Hanya dia yang mengertiku.
Aku pun istrahat setelah mereka beranjak pergi. Ku pejamkan mataku sambil mencoba mengingat kembali apa
yang terjadi. Dan mengapa aku berada disini. Namun tak bisa,
yang ada malah bayangnnya yang hadir. Mengapa? Aku tak mengerti. Tapi,
entahlah.
Lama terus memikirkan itu dan mencoba memikirkan hal
lain, tetapi tetap tak bisa. Dan aku pun menyerah tuk memikirkannya lagi. Apa salahnya? Pikirku.
Besoknya aku sudah bias pulang. Rianty mengemasi semuanya. Sedang Winda dan Andin, sedang mengurus administrasiku. Sepanjang perjalanan,
kuselalu memikirkannya. Dan entah mengapa bayangnya semakin jelas
di pelupuk mataku. Sedetik pun tak ada memikirkan hal lain. Hanya dia dan dia. Semakin dekat kontakkan semakin jelas bayangnya,
bahkan jantungku berdegup tak berarah.
“ada apa ini?” bisikku dalam hati.
Becak yang kutumpangi berhenti di depan gerbang kontrakkanku. Dengan lembut Andin dan Winda membopongku. SedangRianty membukakan gerbang.
Saat hendak melangkah,
tiba-tiba mataku tertuju dengan seseorang yang duduk di teras bersama Linda. Aku berhenti,
hingga Andin dan Winda heran dan bertanya: ada apa Man? NamunRianty langsung berkata: oh itu, itu cowok Linda, katanya sih. Dengan berat kulangkahkan kakiku.
Sesampai di teras.Linda bangkit dan mengenalkannya padaku. Aku hanya diam menatap kepadanya,
hingga teman-teman kubingung melihat sikapku.
Andin menyarankan duduk bersama, namun kutetap membisu seribu bahasa,
“duduk dulu Man” ajak lelaki itu.
Aku terdiam membisu,
namun kutemukan jawaban dari apa yang terjadi terhadapku. Tetapi kenapa semua ini terjadi saat dia telah bersama dengan temanku sendiri?
“aku masuk saja, aku lelah”
ucapku pelan.
Kamarku yang terletak paling depan, membuat hatiku perih mendengar canda mereka. Sakit yang kurasakan membuat bulir-bulir
air mataku mengalir. Ku putar lagu PADI_Kasih Tak Saampai_ dengan keras. Melepas sesak hatiku. Hingga temanku menatapku heran dengan kepala di penuhi pertanyaan.
Malamnya, teman-temanku merumpi di kamarku, namun aku masih enggan berucap sepatah kata pun pada mereka. Bibirku masih mengatup, terkunci rapat serapat terkuncinya luka
yang kusembunyikan selama ini.
Suatu pagi Linda bertanya kepadaku.
“Manda,,, kamu kenal Even yahhh?” tanyanya lembut seolah tak berdosa. Padahal kata-katanya itu membuat lukaku perih. Merobek-merobek sisa hancur hatiku. Perih.
“ahh,,
kawan lama kok! Kenapa Lin??” ucapku pelan dan lembut tuk menyembunyikan luka itu.
“dia baik yahh!” katanya dengan bingkaian ulas senyuman
yang mengembang di bibirnya. Sakit.
Kenapa kuharus merasa sakit? Padahal dia bukan siapa-siapaku lagi. Tanyaku dalam hati.
Esoknya Even datang, ketika aku sedang duduk
di teras dan Linda tidak ada di rumah.
Melihatnya membuatku beranjak dari dudukku, namun dia menahanku.
“Mann,, aku pengen bicara denganmu!”
Ku tatap wajahnya. Tak ada yang berubah masih tetap seperti dulu kukenal.
“plisss’
Dengan seenaknya dia mengungkapkan perasaannya, perasaan yang dulu pernah membuat luka. Bahkan hingga saat ini
masih terasa, apalagi saat bertatap muka dengannya. Brengsekkkk. Ucapku dalam hati.
“maaf tak ada cinta atau pun sayang. Aku bukan orang yang mencintai atau menyayangimu!” ucapku datar, tuk menguatkan hatiku yang hancur.
“tapi…”
“stt,,,
jangan usik hidupku lagi. Anggap aja kita tak pernah kenal”
“Mann,,,”
“lupakan aku, aku sudah bertunangan.
Dan anda bisa pulang sekarang!” ucapku menahan tangis.
“sampai kapan pun ku tak akan melupakanmu, maaf,, mengapa aku menemuimu,,,,!” ucapnya sangat pelan membuat air mataku semakin tak mampuku
bendung. Ku masuk ke dalam rumah, bulir-bulir air mataku pun membentuk anak sungai, di kedua belah pipiku.
“pencarianku sia-sia, karena kutemukan kau telah milik orang lain. Tapi tak mengapa Manda, semoga kau bahagia,
itu sudah membuatku bahagia!”
ucapnya menyayathatiku.
Aku menangis dan terus menangis. Mengapa semua ini harus terjadi?
Esoknya Linda bercerita tentang dia padaku. Sebenarnya hatiku menolak tapi ku tak ingin Linda tau tentang masa laluku dengannya.
“Man,,kasihan
yah bang Even, dia sudah lama mencari-cari mantannya, ternyata mantannya itu sudah tunangan!”
“masa!”
ucapku seolah tak mengetahui apa pun.
“iya
Man,, aku menyesal menyia-nyiakannya kemarin,
demi seseorang yang tak pasti”
tuturnya.
“dialah mantanku yang paling baik” lanjutnya,
Apa???? Ternyata dia benar-benar mencariku. Aku menyesal mengeluarkan kata-kata itu semalam. Aku salah paham. Dia telah pergi dan aku
yang memintannya. Padahal kemarin aku sempat berharap merajut mimpi dengannya. Semuanya sia-sia. Tak berarti. Biarlah dia pergi,
aku tak mungkin memintanya kembali. Semuanya sudah terlanjur. Dan aku sendiri membuat luka baru
di hatiku bukan Linda atau Even. Tapi aku.
THE END
By: VILYE VAYTA
04 April 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar