Jumat, 27 Oktober 2017

Waktu

Aku berlari mengejar sang waktu. Tapi, aku tak pernah sanggup tuk meraihnya.
Bahkan berjalan mundur pun utk menyesali yg sudah berlalu pun aku tak bisa.

Sabang ke Merauke

Aku terjebak dalam dunia yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dunia yang penuh jalan. Benar kata pepatah, seribu jalan menuju Roma. Tetapi hanya ada satu jalan yang tak menanamkan penyesalan dan kesesatan.
Aku terlahir dari keluarga petani. Orang tuaku hanya seorang petani dengan sejuta mimpi untuk anaknya. Dan lengkapkah mimpi mereka akan diriku. Aku diciptakan menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa, dulu. Sekarang jauh dari sebutan itu.
Awalnya aku menolak, bukan tipeku sekali berhadapan dengan anak-anak. Yang kuinginkan adalah belajar sastra, belajar syair, menulis. Mau jadi apa kamu? Kalau kamu jadi guru, masa tuamu akan jelas. Begitulah kata orang tuaku. Bahkan ibuku menyarankan aku mencari anak mantu Pegawai Negeri. Pada akhirnya aku pun mengalah, mengenang aku masih dibiayai. Bahkan mereka mengancam tak usah kuliah kalau bukan jadi guru. Rasanya memalukan tidak kuliah, padahal orangtua mendukung. Dan kujalanilah fakultas pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia dengan dua alasan. Pertama belajar bahasa itu gampang, menurutku. Kedua, pendidikan sastra mendalami dunia sastraku. Ternyata alasan pertama tak segampang yang kubayangkan. Meleset jauh. Namun, aku lulus tepat waktu dengan hasil yang tergolong memuaskan.
Mencari pekerjaan dengan lulusan pendidikan Bahasa Indonesia bukanlah hal yang gampang. Tidak bisa kerja kantoran dengan gaji yang lumayan, seperti mimpiku. Honor. Mencari sekolah yang membutuhkan susah. Ditambah gajinya tak cukup biaya makan 2 minggu. Kapan bantu ortu sekolahin adikku. Boro-boro bantu malah minta dikirimin lagi tuh, katanya kerja. Buka les. Jarang orang mau les mata pelajaran yang satu ini. Buat apa, kan kita orang Indonesia. Irtu kebanyakan orang bilang. Hubungannya apa coba? Nyatanya nilai UN yang paling ancur dari tahun ke tahun, ya Bahasa Indonesia. Coba ikut tes CPNS, tak pernah dibuka lagi semenjak lulus. Terlalu banyak honor yang belum diangkat. Jadi, nasib kami yang setiap tahun diluluskan ribuan bagaimana? Terakhir kerja sebagai marketing. Bukan ahli, jadi tidak pernah dapat pelanggan. Nasibkah.
Hampir setahun kerja tak menentu, akhirnya aku memutuskan terbang ke ujung timur Indonesia. Merauke. Berharap di timur matahari terbit, terbit juga rejeki dan kehidupan baruku. Orang bilang peluangnya besar. Ternyata, honor biasa disini sama dengan yang di Sabang, ditambah biaya hidup tinggi. Ibarat kata, menggantung nasib pada telur di ujung tanduk. Namun, nasib tak selalu buruk, ada kalanya baik. Aku pun lulus tes guru honor PemDa, dengan gaji yang lumayan. Lumayan bisa ngirim ke kampung meski sedikt. Dan bisalah beli bedaklah. Masa dibeliin terus.
Sabang sampai Merauke. Kesempatan ini membuka mataku akan negeri tercinta ini, Indonesia. Di sini aku bertemu dengan manusia berbagai bentuk, jenis, karakter, dan adat-istiadat. Jika di Sabang, aku hanya bertemu orang yang hanya sejenis saja. Tetapi di sini tidak. Dari penjuru Indonesia banyak mengadu nasib di sini.
Letak geografisnya, aku tak bisa menuliskan secara akurat. Aku kan bukan anak geografi. Tetapi tempatnya, jauh dari yang apa aku bayangkan. Dan kamu pasti tidak bisa membayangkannya. Pelosok.
Hujan deras, listrik dan air padam. Listrik padam karena pohon tumbang ke tiang listrik. Air padam, karena daun-daun masuk ke saluran pipa. Kadang ke sekolah cuma gosok gigi dan cuci muka. Jalan rusak, kadang naik perahu ke kecamatan. Tidak ada jaringan sama sekali. Kalau ada, itu berarti kapal putih alias kapal besar membawa penumpang lewat, itu pun kadang. Dan kalau mau dapat jaringan, harus catat hari masuk keluar kapal dan bersiap duduk di tepi pantai. Lengkap sudah.
Kami tinggal bertiga di satu rumah guru. Rumah yang terletak di antara dua sekolah. Kami, adalah orang asing di tempat itu. Kami datang dari berbagai tempat, bahkan aku tidak kenal teman serumahku sebelumnya. Batak, Toraja, Kupang. Lengkaplah, barat, tengah, dan timur. Orang yang berbeda di tempatkan dalam lingkungan yang berbeda pula. Yang sama hanya bahasa ibu pertiwi saja, Bahasa Indonesia. Dan di situlah kadang saya bangga jadi anak bahasa.
Aku dan temanku Bunga (Toraja), mengajar di SMP, dan Sari (Kupang), mengajar di SD. Awalnya setengah mati. Mengajar di sini tak segampang saat menghadapi anak-anak ketika Praktek Lapangan. Yang kutemukan, anak-anak yang terlambat masuk sekolah. Umurnya mengharuskannya mengenakan putih abu-abu, tapi nyatanya dia masih mengenakan putih-biru. Namun ada beberapa anak yang tak bisa mengenal huruf dengan baik. Yang lainnya masih banyak mengeja, padahal bukan Sekolah Dasar lagi.
Jika di zaman ini yang lain sudah mengenal K – 13. Tapi kami lain, yang kami tahu catat buku sampai habis, sebab kalau dikte hurufnya pada hilang. Atau ceramah dari pagi sampai siang. Buku catatan saja hanya ada satu untuk semua. Macam RCTI saja, satu untuk semua. Bagi mereka semua pelajaran itu membosankan, kecuali olah raga. Main bola.
Lebih mirisnya, Ibukota Indonesia itu mereka tidak tahu. Kadang mereka mengatakan Indonesia ibukotanya Monas. Jika kau tunjukkan peta, wilayah Indonesia itu cuma satu pulau. Ya pulau tempat mereka berdiri, yang lain ya tidak tau bu guru. Hari-hari penting yang mereka tahu, cuma 17 Agustus. Kalau ada libur itu karena tanggal merah saja. Jika absen jumlah siswa 45, tapi yang hadir setiap hari cuma 20 orang. Kalau ingin bertemu ke-45 siswa itu, hanya  pas ujian penerimaan raport. Tapi, harap maklum. Kebanyakan dari mereka naik kelas, karena pergantian tahun. Tidak ada guru yang mengajar. Mereka yang ditugaskan, tidak tahu di mana rimbanya. Meskipun begitu, tidak semua lokasi seperti itu. Di tempat lain, kadang hanya satu atau dua guru tinggal di sekolah. Bahkan hanya ada satu kepala sekolah yang tinggal mengajar dari kelas I sampai kelas VI. Namun, di tempatku lain. Ada banyak guru honor, jadi semua mata pelajaran lengkap. Hanya saja honor PemDa tetap di tempat ketimbang honor sekolah. Kami mau makan apa kalau tidak buat laporan.
Selain mengajar, kedua temanku bertugas sebagai pengurus dapodik. Alasannya, mereka bisa mengoperasikan komputer. Katanya. Padahal sebenarnya bukan begitu. Kerja, kerja, tapi laporan tidak sesusi dengan apa yang mereka kerjakan. Laporan yang sebenarnya, orang yang dibayar atasan. Atau atasan kerja sendiri. Mereka hanya makan capeknya doang.
Suatu hari, aku dan bendahara sekolah pergi ke Dinas. Ada hal yang harus kami cek. Karena banyak info yang tak pernah kami ketahui. Ibarat kata orang tua, dorang su sampe bulan, kitong masih tinggal di kampung. Boro-boro info, nonton saja tak pernah. Kami tak punya TV. Boro-boro TV, colok setrika dan laptop aja daya listrik ngak sanggup. Nasib lagi.
Jadi, hari itu perdana aku lihat laporan dana keuangan sekolah setelah sekian lama kerja. Hal yang tak seharusnya kulihat akhirnya kulihat juga. Banyak kode alam di dalam laporan. Banyak tanda tangan tiruan alias palsu. Termasuk tanda tangan atas nama saya, menerima sejumlah uang yang tak tahu jelasnya nyangkut di mana. Wajahku memucat.
Cepat-cepat kututup laporan tersebut sebelum beliau datang. Tapi, hatiku sudah tak tenang. Kucari-cari apa kesalahanku. Mengapa aku dilibatkan dengan hal itu. Memang sebelumnya, aku dan temanku Bunga pernah membaca laporan sekolah. Laporan yang tak jelas perinciannya, hanya saja tak kutemukan namaku. Tapi kali ini.
Awalnya aku ngak peduli dengan laporan segala macam. Dan tidak mau terlibat. Bagiku, beliau menanda tangani laporanku itu sudah cukup. Tapi, karena dia sendiri yang menyeretku. Akhirnya aku pun ikut campur. Perlahan kuselidiki pemasukan ke sekolah. Ada banyak yang tak pernah kuketahui. Padahal semua itu harusnya, semua guru tahu kemana perinciannya, kan ada RKS dan RKT.
Lain masalah dengan atasan. Di sekolah, orang tua datang marah-marah ke sekolah mengatakan akan melaporan aku. Kasus fotocopy buku pelajaran. Apa salahku coba? Toh itu kebutuhan utama anak mereka. Lagian selumnya sudah ada pertemuan soal itu. Dan itu membantu siswa untuk belajar, mengingat kami yang sangat kekurangan buku. Pegangan guru saja, beli sendiri soalnya sekolah tak menyediakannya. Bahkan untuk fotocopy itu, saya pakai biaya sendiri untuk transfortasi. Di tambah lagi, beberapa anak semakin hari semakin berulah. Anak-anak bandal tidak boleh di pukul, ada HAM. Ditegur, malah jawabnya, ko siapa? Bukan sa pu bapak!. Lengkaplah sudah.
Rasanya mau gila memikirkan semua itu. Pengen nangis cerita ke mama, jaringan tak ada. Mau ke kota uang semakin menipis. Tak kusangka. niat baik harus begini. Benar kata orang, tak selamanya baik untukmu, baik untuk orang lain. Hidup ini akan selalu ada pro dan kontranya.
Hampir seminggu, pikiranku kacau balau. Tidur tak tenang memikirkan segalanya. Menunggu pagi rasanya menunggu mimpi buruk jadi kenyataan. Temanku menasehati tidak boleh ambil pusing, jangan terlalu memikirkannya. Tapi, pada akhirnya aku tumbang juga. Masuklah tamu tak di undang. Malari tersiana dan tipes.
Tiga hari sakit, rawat di rumah saja. Uang tak cukup pergi ke kota untuk berobat. Hanya pergi ke bidan desa minta obat. Tapi karena tidak sanggup, akhirnya kami pergi ke kota menuju rumah sakit. Di jalan, pas baru masuk area signal, pesan mamaku masuk. “boa kabar boru?? (bagaimana kabar putriku??) – Batak versi. Batin anak ke Ibu tak pernah lenyap meski singnal lenyap.
Akhirnya sepanjang jalan Mamaku menemani perjalananku, meski sebatas suara. Tetapi aku tak berani mengatakan kalau keuanganku menipis. Aku tak ingin membebani mereka. Adikku mau sidang meja hijau butuh biaya besar. Untung masih ada satu yang bisa kuandalkan di sudut dunia lain. Seseorang yang sayangnya juga tak padam meski kabar timbul tenggelam. Pria terbaik setelah Papaku. Mengirimiku biaya berobat di rumah sakit, meski potong sinamot (mahar perempuan Batak) katanya.
Tak ada signal, mimpi pun jadi. Begitulah kami, sebelum matahari terbenam kami persiapkan telepati. Agar mimpi kami sampai tujuan. Sama hal dengan Papa dan Mama, David pria terbaikku. Mereka sudah bermimpi tidak baik tentang aku. Itu pertanda bahwa kau benar-benar dalam keadaan tidak baik.
Selama di rumah sakit, akhirnya kuceritakan semuanya yang terjadi kepada David. Aku tak siap membebani ortuku, tetapi aku siap membebaninya.
“hidup itu tak selamanya mulus loh... masalah yang kau hadapi selama ini hanyalah kerikil kecil. Dan masalah ini, akan membentukmu menjadi lebih tahu diri, dan lebih baik menentukan perjalanan hidupmu ke depannya.. jangan menyerah, kami ada mendukungmu...” ucapnya panjang lebar.
“aku pengen pulang saja Vid...” ucapku pelan dengan sesak yang menggantung di tenggorokanku.
“ingat tulang dan nantulang yang sudah mendukungmu sejauh ini, kau kesana, kemari mereka dukung. Itu hanya masalah kecil masa kamu menyerah? Bagaimana dengan masalah masa depan kita, yang nantulang tidak suka anak mantunya tidak Pegawai Negeri ini?” ucapnya lembut sambil bercanda.
Akhirnya kupikirkan kembali lagi apa yang diucapkannya. Ternyata benar, masalah yang kuhadapi hanyalah secuil banding orang lain. Dan bukan hanya aku yang jadi korban pemalsuan itu, Bunga yang jadi pengurus dapodik SD itu juga salah satu korban. Atasannya juga menggunakan namanya untuk dana yang tak pernah diketahuinya. Satu tanda tangan, sejuta tanda tanya.
Orang tua yang hendak melaporkan aku, akhirnya mengerti dengan penjelasanku yang berulang kali. Meski dia mencoba menyelidiki apa yang terjadi di dalam sekolah itu. Tapi, aku tak tahu apapun, hanya jawaban itu yang bisa aku lontarkan. Memang aku tak tahu, dan aku tak mau tahu. Biarlah pekerjaanku mengubah nasib anak-anak itu. Mengajari mereka segala hal yang kuketahui selain bahasa. Aku tak ingin membiarkan mereka tetap buta akan dunia ini. Ku ingin mereka jadi orang-orang yang jujur dalam menjalani hidup mereka. Sebab, ada banyak atasan-atasan lain di penjuru negeri ini yang menindas orang-orang kecil hanya demi uang. Akan kuciptakan mereka menjadi pemberantas tikus-tikus berkepala hitam itu.
Wajahku yang dulu masam dengan atasanku, kini biasa seperti dulu. Aku tak mau ambil pusing dengan apa pun yang telah diperbuatnya. Dosa ditanggung sendiri, ada waktunya roda di bawah. Tetapi suatu saat, akan kuberanikan diri menegor kesalahannya. Bukannya orang yang lebih tua dari kita bisa tegur. Setiap orang salah harus kita tegur. Agar negara ini lebih baik lagi.
- Sekian -